SUKOHARJO – Dalam upaya memperkuat pembelajaran muatan lokal (mulok) Jawa sekaligus melestarikan nilai-nilai tradisi luhur, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara), Adi Deswijaya, hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan Muatan Lokal bagi pendidik disabilitas. Acara ini mengusung tema “Mengenal Seni Budaya Lokal (Karawitan, Tari Dolalak, Macapat)”.

Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Kamis, 9 Juli 2026, mulai pukul 08.30 WIB sampai selesai, bertempat di Aula SLB Negeri Sukoharjo, Gatak, Sukoharjo. Acara ini dihadiri oleh sekitar 50 guru Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berasal dari wilayah Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi (Kasi) SMA dan SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah, Edi Purwanto, S.E., M.M. Dalam sambutannya, Edi Purwanto menekankan tiga tujuan penting dari pelaksanaan kegiatan mulok bahasa Jawa ini. Yang pertama, kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya, selaras dengan realisasi anggaran yang tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah. Yang kedua, peningkatan kompetensi guru. Kegiatan ini bertujuan untuk terus meningkatkan, memperluas, dan menambah khazanah pengetahuan bapak dan ibu guru, agar nantinya dapat menyampaikan materi muatan lokal bahasa Jawa kepada anak didik secara lebih berkualitas dan dinamis. Yang ketiga internalisasi dan pembiasaan bagi peserta didik. Melalui para guru, diharapkan peserta didik dapat mengerti, memahami, serta memetik pelajaran berharga terkait muatan lokal bahasa Jawa, nilai-nilai adat, kebiasaan hidup di Jawa Tengah, hingga karya sastra luhur seperti geguritan dan seni lainnya. Pengetahuan ini diharapkan terwujud menjadi pembiasaan karakter sehari-hari, sehingga semangat nguri-nguri (melestarikan) bahasa Jawa benar-benar dihidupkan oleh seluruh peserta didik.

“Harapan kita bersama adalah kita semua harus senantiasa konsisten untuk nguri-nguri muatan lokal yang ada di Jawa Tengah ini. Seni, bahasa, dan budaya Jawa harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam kehidupan kita, baik dalam bermasyarakat maupun di dalam bernegara,” tegas Edi Purwanto dalam arahannya.

Sebagai narasumber, Adi Deswijaya memaparkan materi mendalam mengenai dimensi filosofis dari tiga pilar kesenian Jawa tersebut agar para guru dapat mentransfer nilai karakter (bukan sekadar praktik) kepada siswa SLB. Filosofi Karawitan. Adi menjelaskan bahwa karawitan melatih nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesopanan. Di balik harmonisasi instrumen gamelan, terdapat filosofi Sasmita Ning Gesang (keselarasan hidup tanpa ada yang mendominasi ego), Tepa Slira (toleransi ketukan wirama), serta Sabar dan Eling (sikap spiritual menunggu giliran tabuhan gong sebagai simbol kembali kepada Sang Pencipta). Filosofi tari dolalak yang merupakan kesenian khas Purworejo ini dikupas dari akulturasi gerakan dansa Barat dan pencak silat lokal, yang mulanya lahir sebagai bentuk satire (sindiran sosial) terhadap serdadu kolonial, sekaligus melambangkan ketegasan, kegagahan, harga diri, dan gotong royong (manunggal). Filosofi Tembang Macapat. Adi menerangkan bagaimana 11 tembang macapat dari Maskumambang hingga Pocung merupakan representasi utuh dari siklus hidup manusia. Setiap tahapan tembang mengandung piwulang (petunjuk moral) mengenai spiritualitas, pembentukan cita-cita, asmara yang sehat, kematangan jiwa, kemurahan hati (durma), hingga pengingat akan kematian (megatruh). Melalui pemaparan materi tersebut, diharapkan para guru SLB di Sukoharjo dan Surakarta mendapatkan inspirasi dan metode kontekstual untuk mengenalkan budaya Jawa dengan pendekatan nilai budi pekerti yang adaptif bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Kegiatan berjalan secara interaktif dan ditutup dengan sesi diskusi bersama narasumber. (Published by PBSD)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *