SEMARANG, 11 Mei 2026 – Dalam upaya memperkuat pelindungan bahasa daerah dan meningkatkan kompetensi pendidik, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Utama Pelindungan Bahasa Daerah. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai Jumat hingga Senin (8-11 Mei 2026) ini, bertempat di Balairung Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Acara berskala provinsi ini dibuka oleh Dwi Laily Sukmawati, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah yang dihadiri oleh 105 guru Bahasa Jawa tingkat SMP yang merupakan “Guru Utama” (master teacher) perwakilan dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, serta didampingi oleh 7 orang pengawas sekolah berprestasi.

Dalam forum strategis tersebut, adi deswijaya, dosen program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, FKIP, Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, hadir sebagai salah satu narasumber pakar. Beliau dipercaya memberikan pendalaman materi mengenai “Strategi Membaca dan Menulis Aksara Jawa” kepada para peserta.

Materi ini menjadi krusial mengingat tantangan digitalisasi dan memudarnya kemahiran menulis aksara asli di kalangan generasi muda. Dalam sesinya, Adi Deswijaya membagikan trik-trik praktis membaca dan menulis aksara Jawa.

“Guru Utama memiliki peran vital sebagai ujung tombak pelestarian bahasa. Melalui penguasaan aksara Jawa yang mumpuni, diharapkan para guru dapat mentransfer nilai-nilai luhur budaya Jawa dengan cara yang lebih menarik dan mendalam di daerah masing-masing, serta mempersiapkan anak didik unggul dalam menghadapi lomba Festival Tunas Bahasa Ibu yang insyaallah akan dilaksanakan pada bulan Oktober” ujar adi deswijaya di sela-sela kegiatannya di Balairung Balai Bahasa.

Kegiatan Bimtek ini melibatkan total 21 pakar bahasa dan sastra yang bertindak sebagai pembimbing dan bagian dari tujuh mata lomba yang puncaknya akan dilombakan di Festival Tunas Bahasa Ibu. Tujuh mata lomba tersebut di antaranya: (1) maca lan nulis aksara Jawa (membaca dan menulis aksara Jawa); (2) ndongeng (mendongeng); 3. sesorah (berpidato); 4. nulis cerkak (menulis cerkak); (5) maca geguritan (membaca geguritan); (6) nembang macapat ; dan (7) ndhagel ijen (komedi tunggal). Kehadiran akademisi dari Univet Bantara dalam jajaran pakar tersebut menegaskan komitmen universitas dalam mendukung program nasional Revitalisasi Bahasa Daerah yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Diharapkan, setelah mengikuti bimbingan teknis ini, ke-105 guru utama tersebut dapat mengimbaskan ilmu yang didapat kepada rekan sejawat dan siswa di seluruh penjuru Jawa Tengah, guna memastikan bahasa dan aksara Jawa tetap lestari di tengah arus modernisasi. (Posted by PBSD)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *