SUKOHARJO23 Januari 2026. Mahasiswa Semester V Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) telah berhasil menyelenggarakan pagelaran kethoprak bertajuk “Kidung Tlatah Serang” yang digelar di Taman Budaya Suryani Sukoharjo pada Jumat, 23 Januari 2026, mulai pukul 20.00 hingga 22.30 WIB.

Menurut Adi Deswijaya, pagelaran yang mengangkat naskah karya Panggah Rudito ini bukan sekadar pementasan seni, melainkan memiliki tiga misi utama: (1) Akademik: Sebagai wujud Ujian Akhir Semester (UAS) Gasal 2025/2026 untuk mata kuliah Teater Tradisional Jawa; (2) Pengabdian Masyarakat: Implementasi nyata bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mampu memberikan hiburan sekaligus edukasi (kawruh) sejarah kepada masyarakat luas; (3) Pelestarian: Melestarikan warisan budaya leluhur agar tidak hilang dimakan oleh jaman; dan (3) Sosialisasi: Bentuk pengenalan dan promosi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (Jawa) yang berstatus Akreditasi “UNGGUL” ini kepada calon mahasiswa baru untuk tahun ajaran Gasal 2026/2027.

Lakon “Kidung Tlatah Serang” membawa penonton kembali ke masa Perang Diponegoro (1825-1830). Mengisahkan perjuangan heroik Nyi Ageng Serang bersama putra dan cucunya, Adipati Sumawijaya dan Pangeran Natapraja Papak. Cerita ini menyoroti taktik perang gerilya yang legendaris, seperti penggunaan kamuflase Godhong Tales (Lumbu) oleh Bregada Semut Ireng yang berhasil melumpuhkan kekuatan VOC di bawah Jenderal De Kock. Meski dalam kondisi sakit dan harus memimpin dari dalam Joli (tandu), semangat Nyi Ageng Serang tidak surut dalam memberikan siasat perang bagi Pangeran Diponegoro.

Namun, lakon ini juga memotret sisi kelam pengkhianatan. Saat Nyi Ageng Serang berada di medan gerilya, Kadipaten Serang justru dikuasai oleh oknum yang pro-Belanda. Rakyat dipaksa membayar pajak yang berat di tengah kesulitan hidup. Melalui tokoh telik sandi bernama Joned, penonton akan diajak melihat bagaimana “api dalam sekam” dan pengkhianatan di internal pasukan mulai merongrong perjuangan. “KIDUNG TLATAH SERANG adalah sebuah nyanyian pedih rakyat Serang, yang mungkin saat ini hanya dapat kita dengar kesaksiannya dari dalam Waduk Kedung Ombo,” tulis Panggah Rudito dalam sinopsisnya. Masyarakat umum diundang hadir untuk mengapresiasi karya mahasiswa sekaligus menyelami kembali nilai-nilai kepahlawanan dan sejarah lokal yang adiluhung. (Posted by PBSD)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *