Surakarta, 5 Oktober 2020

Bapak Luthfi Khamid dan Ibu Asti Suryo Astuti

Dalam rangka memperingati Hari Batik yang ke 11 tahun (2 Oktober 2020), Museum Radya Pustaka Surakarta mengadakan pelatihan membatik bersama dengan mendatangkan narasumber dari Batik Danarhadi Surakarta. Terkait pelatihan yang dilaksanakan pada hari Minggu, 4 Oktober 2020 ini, 2 (dua) mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) mendapat undangan sebagai peserta untuk mengikuti pelatihan membatik. Dua mahasiswa tersebut adalah Yanuar Bintang P. dan Imam Adi Isnanto yang keduanya sedang menempuh semester 5 di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD), dengan dosen pendamping Bapak Adi Deswijaya, S.S., M.Hum.

Pelatihan Membatik dibuka oleh Bapak Luthfi Khamid, S.S. (Kepala UPT Museum Dinas Kebudayaan Surakarta), dengan narasumber Ibu Asti Suryo Astuti (Asisten Manajer Museum Batik Danar Hadi Surakarta). Menurut Bapak Luthfi Khamid, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan minat kunjung wisatawan-wisatawan ke museum. Batik merupakan warisan tak benda yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.

Sebelum pelatihan membatik dimulai, acara diawali dengan penyajian materi tentang Pola Batik, Arti Flosofi dan Makna Simbolisnya oleh Ibu Asti Suryo Astuti. Penjelasan Ibu Astuti sangat mendalam, antara lain: (1) pengertian batik itu sendiri; (2) Ragam Hias Batik (ragam hias utama, isen-isen, dan ragam hias pengisi); (3) Pola Batik berdasarkan dari bentuknya(pola geometri, pola non geometri, dan pola khusus) dan berdasarkan gayanya (batik pedalaman dan batik pesisir). Begitu jelas dan rinci penjelasan dari Ibu Astuti.

Setelah penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan pelatihan membatik yang dibimbing oleh ibu-ibu penyanthing atau ibu-ibu karyawati pembatik tulis dari Danarhadi Surakarta. Dengan kesabaran dan berseragamkan merah putih, ibu-ibu tersebut melatih para peserta dengan lihainya. “Yen disawang kaya gampang, jebul ya angel”, celethuk salah satu peserta workshop. “Butuh kesabaran”, kata salah satu ibu pelatih pembathik tulis tersebut. Mbathik berasal dari jarwa dhosok mbabar sithik-sithik. Dibutuhkan kesabaran dalam membatik.

(@adides)

2 Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Univet Bantara Sukoharjo Mengikuti Pelatihan Membatik di Museum Radya Pustaka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *